Copyright © 2010 Lowongan CPNS BUMN Bank 2010 2011. All Rights Reserved. Snowblind by Themes by bavotasan.com. Powered by WordPress.
Posts Tagged ‘ Info ’
Doktor asal Jombang Menangi Kompetisi Teknologi Pertahanan di InggrisSang Robot Bisa Bedakan yang Sipil dan MiliterHampir bersamaan dengan ulang tahun kemerdekaan Indonesia, Dr Subchan, peneliti asal Indonesia, berhasil meraih prestasi bergengsi di Inggris. Bahkan, Departemen Pertahanan Inggris berminat mengembangkan robot dan piranti ciptaan timnya.NURANI SUSILO, LondonSIAPA sangka dari Swindon, sebuah kota kecil yang berjarak sekitar dua jam berkendara dari London, seorang anak bangsa, Dr Subchan, kini menjadi pembicaran di Inggris. Peneliti di Cranfield University, Shrivenham Campus di Oxfordshire, Inggris, bersama timnya dinyatakan sebagai pemenang Minister of Defense (MoD) Grand Challenge.MoD Grand Challenge adalah lomba bergengsi untuk mencari teknologi terapan di dunia militer yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan Inggris. Subchan, pria yang lahir dan besar di Jombang, Jawa Timur, itu bersama Team Stellar mengembangkan Saturn (Sensing and Autonomous Tactical Urban Reconnaissance Network).Saturn adalah semacam robot yang berfungsi mendeteksi ancaman musuh. Bukan sembarang robot. Ini adalah robot terpadu yang memiliki tiga komponen, baik di darat maupun udara, yang bisa mengidentifikasi kekuatan dan posisi musuh di medan pertempuran.Tim Stellar adalah gabungan antara Cranfield University, Stellar Service Ltd, Blue Bear System Ltd, SELEX Sensors, dan Airborne System Ltd, TRW Conekt, dan Marshall Specialist Vehicles.”Robot ini bisa menggantikan manusia untuk mengintai kekuatan dan posisi musuh, tanpa berisiko terlihat atau diketahui lawan,” jelas Subchan yang lulusan Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) jurusan matematika 1994 itu kepada Jawa Pos kemarin.Karena berbagai kelebihan itu, Subchan dan Team Stellar dinyatakan unggul dibandingkan peserta lomba yang lain. Andy Wallace, perwira militer dari Departemen Pertahanan Inggris, mengakui ingin mendapatkan produk teknologi yang membuat misi prajurit di medan tempur semakin aman. ”Kami ingin tentara yang bertugas di lapangan makin aman dan keselamatan mereka terlindungi,” kata Wallace kepada stasiun televisi BBC.Dalam konteks perang modern, lanjut Wallace, produk teknologi seperti yang dikembangkan Subcham dan timnya memang sangat relevan. Medan yang asing dan sulit, membutuhkan piranti yang bisa sangat membantu prajurit tempur.Robot yang dikembangkan Team Stellar ini terdiri atas dua pesawat kecil dan satu kendaraan darat. Semuanya tanpa awak. Wahana ini dilengkapi dengan sensor radar, panas, dan visual. Untuk menyelaraskan kerja ketiga robot ini, sekaligus menganalisis hasil yang didapat, dibuat semacam pusat mengendali terpadu.Kepada Jawa Pos Subchan memaparkan, tiga komponen robot yang dikembangkan Team Stellar itu punya fungsi sendiri-sendiri yang saling menunjang. Pertama, pesawat tanpa awak yang terbang tinggi. Alat ini berfungsi memetakan wilayah dan mengetahui medan. Pesawat ini bisa mendeteksi kendaraan militer; tank, bahkan sniper (penembak jitu) lawan.Namun, untuk bom pesawat, alat ini tidak bisa mendeteksi secara akurat. Itulah sebabnya dibuat robot kedua dan ketiga berupa pesawat tanpa awak yang terbang rendah dan satu robot darat (ground vehicle). Kedua robot terakhir ini lebih berfungsi untuk mengecek atau melakukan verifikasi terhadap temuan pesawat pertama yang terbang tinggi .Subchan, yang menempuh master bidang applied matematics (S2) di Delft University of Technology di Belanda pada 1998-2000 ini terlibat di bagian desain dan pengembangaan kendaraan udara dan darat tanpa awak. ”Ini memang pekerjaan yang sangat menguras tenaga dan otak,” kata pria kelahiran Jombang Mei 1971 itu.Dia menceritakan, proyek robot militer ini dimulai sekitar pertengahan 2007. Selama kurang lebih setahun, Team Stellar yang menggabungkan beberapa perusahaan pertahanan dan Cranfield University itu mengembangkan dan menguji coba Saturn di lapangan. Uji coba dilakukan di beberapa tempat di Inggris.”Proyek ini membuat saya sering ke lapangan dan menghabiskan waktu di alam terbuka. Kadang selama berhari-hari menyempurnakan Saturn,” kata anak kedua dari empat bersaudara pasangan Abdul Muin dan Djamilah ini.Dalam enam bulan terakhir, hampir tiap minggu Subchan dan timnya ke lapangan menguji Saturn. Waktu yang terbatas memang menjadi salah satu kendala pengembangan Saturn. Bahkan, sampai babak final pun, masih ada beberapa masalah yang mengganjal.”Pada proofing event (pembuktian produk) yang berlangsung selama lima hari, kami sempat khawatir karena sampai hari ketiga komunikasi antara stasiun pengendali di darat dan robot kendaraan tidak begitu bagus,” bpak lima orang anak itu. Untunglah pada hari keempat, persoalan bisa diatasi.Menurutnya, salah satu tantangan yang harus dilakukan setiap tim adalah dalam waktu satu jam harus mendemonstasikan hasil temuannya di Village of Copehill Down, di Salisbury Plain, Wiltshire, Inggris. Yakni, sebuah perkampungan yang khusus dibuat untuk latihan militer. Kondisi perkampungan itu dibuat sedemikian rupa mirip dengan medan peperangan, lengkap dengan snipers, bom, tank, peluncur roket, hingga aktor yang berperan sebagai tentara lawan dan penduduk sipil.Dalam tantangan seperti itu, robot peserta MoD Grand Challenge harus bisa membedakan mana yang ancaman dan mana warga sipil biasa.”Saya sangat bersyukur bisa menang,” kata suami Ima Imadatul yang pernah empat tahun bekerja di IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia) sebelum menjadi dosen ITS.Subchan layak berbangga karena dari 11 tim yang mengikuti lomba ini hanya enam yang masuk babak final. Dan dari enam ini, Team Stellar menang dan berhak atas penghargaan begengsi RJ Mitchell Trophy. Tropi yang mengambil nama perancang pesawat Spitfire Fighter, pesawat tempur legendaris pada pertempuran Battle of Britain.Penelitian pertahanan dan keselamatan sipil memang bukan dunia yang asing bagi Subchan. Cranfield University, tempat Subchan sekarang bekerja sebagai peneliti, memang memiliki studi pertahanan. Di sinilah dulu ia menyelesaikan S3 di bidang Guidance and Control (panduan dan kendali). ”Berbagai proyek yang saya ikuti hampir semuanya memiliki kaitan dengan pertahanan,” kata Subchan .Setelah lulus doktor, Subchan meneruskan post doctoral pada Departement Informatics and Sensors pada universitas yang sama dengan bidang yang ditekuninya sekarang: decision making, data fusion, mission planning and control (bidang pengambilan keputusan, penggabungan data, dan perencenaan misi).Ia mengaku tidak pernah membayangkan dan berencana menjadi peneliti militer. Tapi kuliah S3 di Cranfield University membuatnya menekuni penelitian dan pengembangan teknologi militer. Ia pernah meneliti ‘awan yang tercemar nuklir’. Bila semisal ada kebocoran di reaktor nuklir, Subchan membantu menentukan luas wilayah yang tercemar bahan berbahaya. Dari sini bisa ditentunkan warga di wilayah mana yang harus diungsikan karena kebocoran nuklir tersebut.”Inilah yang membuat saya senang dan menikmati bidang saya. Ada hasil nyata yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan manusia,” kata Subchan yang juga sering menjadi pembicara pada forum pengajian di Swindon dan London.Untuk masa depan Saturn yang ia kembangkan bersama Team Stellar, ia belum tahu persis kapan selesai dan dipakai oleh kalangan militer. Yang jelas, teknologi yang dipakai sangat kompleks dan membutuhkan dana yang besar. ”Kalau dananya tersedia mungkin Saturn bisa hadir lebih cepat,” katanya. (el) Url: http://www.jawapos.co.id/
Continue Reading »Info yang menarik, rekan Condro!Sedikit tambahan dari Franklin:1) ranking yang tinggi tidak langsung menjamin semua program yangditawarkan pada kampus tersebut juga terbaik. Lebih baik lagi jikapara rekan langsung menghubungi jurusan dan profesor yangbertanggung-jawab terhadap grup riset di kampus tersebut. Juga denganmempelajari output dari departemen-departemen di kampus tersebut.2) ranking yang ditunjukkan rekan Condro ini bisa disebut ranking”semu” karena sangat menekankan kualitas “undergraduate” study…alias program S-1 kalau di Indonesia. Bagi yang ingin masuk programS-2/S-3, pertimbangkanlah mutu “grad school” dari kampus-kampustersebut secara terpisah; rankingnya seringkali berbeda dengan ranking”colleges”. Selain itu, “grad school” biasanya diranking berdasarkanspesialisasi departmen… tidak seperti ranking “colleges” yang masihsangat general.OK? Bagi yang masih bingung, coba bandingkan beda ranking dari”college” dan “grad school” dari situs yang sama. Ini saya beribeberapa contoh:a) Best Colleges:http://colleges.usnews.rankingsandreviews.com/college/national-searchb) Best Physics Grad Schools:http://grad-schools.usnews.rankingsandreviews.com/grad/phy/searchc) Best Law Grad Schools:http://grad-schools.usnews.rankingsandreviews.com/grad/law/searchd) Best Psychology Graduate Schools:http://grad-schools.usnews.rankingsandreviews.com/grad/psy/searche) Best Fine Arts Graduate Schools:http://grad-schools.usnews.rankingsandreviews.com/grad/art/searchsalam,FranklinRESPONSSaya setuju dengan pendapat mas Franklin. Kebetulan saya sendiripernah merasakan kuliah di 2 universitas yang masuk ke dalam daftarranking 100 besar dunia tersebut. Saya tak perlu sebutkan namauniversitasnya secara spesifik, yang jelas keduanya berasal darinegara maju yang berbeda.Setelah mengalami sendiri proses perkuliahan dan penelitian di keduauniv tersebut saya bisa merasakan perbedaan kualitas yang sangat jauhantara keduanya. Namun ironisnya dalam sistem pemeringkatan tersebut,universitas yg menurut saya (tentu saja berdasarkan pengalamanempirik) kualitasnya bagus malah mendapat peringkat jauh di bawahuniversitas yang kualitasnya, sekali lagi menurut pengalaman saya,kurang bagus (jelek, if you like).Jadi semua ini tergantung dari program apa yang kita pelajari. Sistempemeringkatan univ biasanya dilakukan secara rata2 keseluruhanprogram/dept yang dipunyai univ tersebut.
Continue Reading »Capai Perguruan Tinggi Kelas Dunia Tanpa Bahasa Inggris Jakarta- Rektor Universitas Terbuka (UT) Atwi Suparman mengatakan sudah waktunya perguruan tinggi-perguruan tinggi di Indonesia meningkatkan kualitasnya untuk menuju perguruan tinggi kelas dunia (World Class University). Menurutnya, untuk menjadi perguruan tinggi tingkat dunia, tidak harus perguruan tinggi tersebut menggunakan bahasa pengantar Bahas Inggris. ” Untuk jadi universitas tingkat dunia, tidak harus menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar atau mengunakan program-program pembelajaran dari luar negeri. Menggunakan Bahasa Indonesia juga bisa menjadi universitas kelas dunia. Jadi jangan disalahartikan,” ujar Atwi usai mewisuda 3.511 lulusan diploma, sarjana dan pascasarjana, di Jakarta, Selasa (1/4).Dia menambahkan, dengan adanya World Class University yang dimiliki oleh perguruan tinggi di Indonesia, maka masyarakat tidak perlu repot-repot menyekolahkan anaknya ke luar negeri.UT sendiri, lanjut Atwi, tengah bersiap diri menuju World Class University dengan cara berbenah diri dalam memberikan layanan pendidikan jarak jauh (PJJ) yang kini semakin diminati masyarakat. Pasalnya, era persaingan bebas menginginkan kualitas lulusan yang bisa diandalkan dalam berbagai bidang.”Mahasiswa saat ini semakin kritis. Mereka semakin menekankan pentingnya jaminan kualitas dalam setiap proses belajar mengajar yang baik. Karena itu UT kini terus berbenah diri dalam menyediakan sarana belajar yang berstandar internasional agar pada 2020 bisa menjadi Perguruan Tinggi Jarak Jauh Terbaik (PTJJ) di Asia ” lanjutnya.”Karena itu, secara nasional UT tetap mengaku pada akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional (BAN),” jelas Atwi.(stevani elisabeth)
Continue Reading »